Home » » "Aku Cinta Padamu Kerana Allah" Macam mana tu?

"Aku Cinta Padamu Kerana Allah" Macam mana tu?

Written By Lisanul Hakim (Ahmad Shafiq Ismail) on Tuesday, May 03, 2011 | Tuesday, May 03, 2011


indahnya jika menjalin ukhuwah atas sandaran kalimat laillahaillallah



Bismillahirrahmanirrahim..
segala puji bg Allah s.w.t tuhan sekali alam
Tuhan yg Maha pengasih lagi Maha penyayang
selawat serta salam ke atas junjungan besar nabi Muhammad s.a.w
Alhamdulillah
hari ni kita masih diberikan peluang sekali lagi
untuk bernafas dan menikmati segala nikmat yg tanpa henti mengalir deras dlm jasad kita
seperti darah, denyutan jantung dan kerdipan mata yg berkelip tanpa henti
pernahkah kita terfikir?
jika Allah nak menguji kita dan mengambil salah satu nikmat ini..
apakah yg mungkin terjadi pada diri kita?
Adakah Allah terlalu kejam jika berbuat begitu?
bagaimana pula dgn kita?
tidakkan kita lagi kejam kepadaNya..
Setelah berlimpah nikmat yg Allah berikan
Beginikah caranya kita menyatakan rasa syukur dgn segala mcm nikmat yg Allah
kita bukan tidak tahu tetapi saja buat2 tak tahu
mengapa menzahirkan "syukur" ini dgn maksiat?kemungkaran?perbuatan keji?
kenapa tidak dgn zikrullah,puji-pujian serta berbuat baik terhadap ibu bapa serta insan lain?
Nikmat apa lagi yg hendak kamu dustakan?
Saya tinggal anda semua dgn persoalan ini..
agar kita semua dpt berfikir sejenak tentang hakikat kehidupan dan syukur
tepuk dada, tanya iman anda ^_^



Ukhuwah bagai seutas tasbih bukan ketika cinta bertasbih ye..huhu



bukan berkenaan syukur yg ingin saya kongsikan
isu yg ingin saya kupas ini juga sgt penting untuk dikongsikan
dan merupakan tunjang kepada sebuah ketemadunan yg harmoni
menjadi tunjang kepada kebangkitan Islam
"UKHUWAH
Pada masyarakat Islam, persatuan dan kesatuan atau lebih sering disebut dengan
ukhuwah Islamiyah
merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar,
apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati.
Kerana itu, ketika Nabi Saw berhijrah ke Madinah, yang pertama dilakukannya adalah Al-Muakhah,
yakni mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin
dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar.
Ini bererti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman,
maka seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman
menjelma dalam kehidupan sehari-hari,
Allah swt. berfirman,
“Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” [QS Al-Hujurat (49):10]


haiwan pun pandai berbuat baik sesama sendiri..takkan manusia tak boleh?jgn kalah dgn "ukhuwah" kucing....


Bak kata orang tak kenal maka tak cinta,
Bak kata org2 di indonesia plak
"tak kenal maka taaruf"
Melalui rahmat-Nya-lah maka akan tumbuh
rasa mahabbah (saling mencintai) antara sesama sehingga secara naluriah,
manusia merasa saling memerlukankan antara satu dengan lainnya,
sehingga terwujudlah persaudaraan.

Hadits Rasulullah Saw, “Seorang muslim dengan muslim lainnya, bagaikan bangunan yang saling mengikat dan menguatkan satu sama lainnya
http://umaramgkur.files.wordpress.com/2011/01/cinta-allah11.jpg

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Belum dikatakan beriman salah seorang diantara kamu, sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri ” (HR. Bukhari).

Prinsip dan karakteristik persaudaraan muslim telah dicontohkan oleh para sahabat Rasulullah Saw antara lain,semangat berbagi dengan saling mengutamakan dan memperhatikan sesama dan selalu siap sedia berkorban untuk meringankan beban saudaranya.
Ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, seorang sahabat Anshar Sa’ad bin Rabi’ berkata kepada Abdurrahman bin’ Auf dari Muhajirin, “Saya adalah orang yang di Madinah ini, mulai saat ini saya akan membagi setengah kekayaan saya kepada anda “. Begitu luar biasa ukhuwah islamiyah yang dipraktikkan para sahabat.

Mengingat kedudukan ukhuwah islamiyah yang sedemikian sgt penting,
maka memeliharanya menjadi sesuatu yang amat ditekankan.
Tetapi sebelum itu ada beberapa hal yang harus kita hindari
agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara

Allah swt berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan) dan
jangan pula wanita wanita-wanita mengolok-olokan wanita yang lain
(karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokan)
lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) dan
janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka,
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?.
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
[QS Al-Hujurat (49): 11-12]
Dari ayat di atas, ada enam hal yang harus kita hindari agar ukhuwah islamiyah tetap terpelihara:

PERTAMA
"memperolok-olokan"
baik antara individu maupun antara kelompok, baik dengan kata-kata mahupun dengan bahasa isyarat kerana hal ini dapat menimbulkan rasa sakit hati, kemarahan dan permusuhan. Manakala kita tidak suka diolok-olok, maka janganlah kita memperolok-olok, apalagi belum tentu orang yang kita olok-olok itu lebih buruk dari diri kita

KEDUA
mencaci atau menghina orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan,
apatahlagi bila kalimat penghinaan itu bukan sesuatu yang benar. Manusia yang suka menghina bererti merendahkan orang lain, dan iapun akan jatuh martabatnya.

KETIGA
memanggil orang lain dengan panggilan gelar-gelar yang tidak disukai.
Kekurangan secara fizikal bukanlah menjadi alasan bagi kita
untuk memanggil orang lain dengan keadaan fiziknya itu.
Orang yang pendek tidak mesti kita panggil si pendek, orang yang badannya gemuk tidak harus kita panggil dengan si gendot,
begitulah seterusnya karena panggilan-panggilan seperti itu bukan sesuatu yang menyenangkan.
Memanggil orang dengan gelar sifat yang buruk juga tidak dibolehkan meskipun sifat itu memang dimilikinya,
misalnya karena si A sering berbohong, maka dipanggillah ia dengan si pembohong,
padahal sekarang sifatnya justru sudah jujur tapi
gelar si pembohong tetap melekat pada dirinya.
Oleh sebab itu jangan panggil seseorang dengan gelar-gelar yang buruk.

KEEMPAT
berburuk sangka,
ini merupakan sikap yang bermula dari iri hati (hasad).
Akibatnya ia berburuk sangka bila seseorang mendapatkan kenimatan atau keberhasilan.
Sikap seperti harus dicegah karena akan menimbulkan sikap-sikap buruk lainnya yang mampu merosak ukhuwah islamiyah.

KELIMA

mencari-cari kesalahan orang lain,
hal ini karena memang tidak ada perlunya bagi kita, mencari kesalahan diri sendiri lebih baik untuk kita lakukan agar kita bisa memperbaiki diri sendiri.

KEENAM
bergunjing dengan membicarakan keadaan orang lain yang bila ia ketahui tentu tidak menyukainya,
apalagi bila hal itu menyangkut rahsia pribadi seseorang. Manakala kita mengetahui rahsia orang lain yang ia tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, maka menjadi amanah bagi kita untuk tidak membicarakannya.


Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ketika
ukhuwah islamiyah kita dambakan perwujudannya,
maka segala yang mampu merosaknya harus kita hindari.
Bila ukhuwah sudah terwujud, yang merasakan manfaatnya
bukan hanya sesama kaum muslimin,
tapi juga umat manusia dan alam semesta,
kerana Islam merupakan agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Kerananya.... mewujudkan ukhuwah Islamiyah
merupakan keperluan penting dalam kehidupan ini.
http://1.bp.blogspot.com/_GXZlqzoLxbo/S9mWHz9iKqI/AAAAAAAAAUQ/53HYta9tUBo/s1600/love-allah.jpg

0 comments:

Post a Comment

BLOG INI BERMANFAAT ? LIKE PAGE KAMI !

SAHABAT SEPERJUANGAN